AYATULLAH S. MADSARI

Ayatullah S Madsari

Ayatullah S Madsari

Setidaknya ada tiga tema besar yang sangat penting dalam filsafat Islam yaitu; pertama tentang masalah Tuhan, kedua tentang Alam, dan yang ketiga tentang Manusia. al-kindi4Menurut Prof. Dr. Mulyadi Kartanegara ketiga tema ini penting untuk dikemukakan, dan harus ada ketika kita membahas tentang tradisi filsafat islam. Menurut beliau, pada zaman post modern ini, telah terjadi perubahan pandangan dunia secara fundamental yang mencabut akar-akar tradisi dan akhidah suatu agama. F. Budi Hardiman dalam bukunya juga berpendapat sama “perkembangan pemikiran dari natural orented menuju rasionalitas, menjadikan orientasi manusia dengan alamnya bergeser sangat tajam. Masyarakat pra-modern bersifat cosmo centris. dalam arti antara lingkungan batiniyah tak terdapat jarak yang tegas. Alam lahiriah terpantul dalam alam batiniyah dan sebaliknya, sehingga kita bisa berbicara mengenai harmoni antara makrokosmos dan mikrokosmos”. akibat dari modernitas yang “keliru”, sehingga kita tidak dapat lagi membedakan dengan baik pandangan bijak/arif (Filosof/hukama) yang sangat dibutuhkan untuk mengimbangi pandangan dunia skuler. Hal ini dapat merusak sendi-sendi keimanan, tradisi dan tatanan moral bangsa. A. Tuhan Tuhan adalah tema yang sangat penting dalam kajian filsafat Islam hal ini bekaitan erat dengan hal kenyakinan yang menyangkut penciptaan, atau istilah aristoteles adalah penggerak yang tak dapat digerakkan. Lain halnya di dunia Barat, banyak ilmuan dan filusuf yang berusaha menyingkirkan Tuhan, diantaranya Nietzsche. Ia berpendapat bahwa Tuhan telah mati begitu, juga Karl Marx yang mengatakan bahwa agama sebagai candu yang dapat meracuni setiap pemeluknya. Oleh karena itu, para filusuf muslim membuat suatu antisipasi khususnya bagi kaum muslimin umumnya seluruh manusia yang ingin mendapat kebenaran hakiki, yaitu kebenaran yang muncul dari suatu Zat yang Maha Benar yaitu Tuhan. Mereka memasukkan tema Tuhan dalam suatu pemikirannya dan itu dianggap sangat penting. Bahkan, Tuhan adalah segalanya bagi para filusuf muslim, denagn pembahasan Tuhan ini maka akan terlahir pembahasan-pembahasan selain Tuhan (ciptaan-Nya) termasuk tentang alam dan manusia. Mulla Shadra menyebutkan Tuhan adalah sang wujud murni sebagai syarat bagi adanya yang lain . Para sainsific modern mensingkirkan (menyisihkan) Tuhan sebagai objek metafisik, sementara dalam tradisi intelektual Islam Tuhan adalah objek penilitian yang tertinggi dan termulia yang bukan hanya akan meyebabkan ilmu tentang-Nya sebuah disiplin ilmu yang tertinggi tetapi juga yang dipercaya akan mendatangkan kebahagiaan tertinggi bagi siapa saja yang mempelajarinya dengan demikian kajian ini dapat dijadikan sebagai basis moral bagi penelitian ilmiah. Setidaknya konsep filosofis tentang Tuhan akan mendiskusikan beberapa kajian: 1. Tuhan sebagai sebab. 2. Tuhan sebagai wajib al wujud. 3. Tuhan sebagai cahaya, dan 4. Tuhan sebagai wujud murni. 1. Tuhan sebagai sebab Pendapat yang mengatakan Tuhan adalah sebagai penyebab yang pertama (Al-Illat, Al-Ula) pertama kali dikemukakan oleh filusuf Yunani yaitu Aristoteles. Kemudian diadopsi oleh filosuf muslim seperti Al Kindi. Konsep ini mempersepsikan Tuhan sebagai sebab dari keyakinan bahwa suatu kejadian tidak bisa terjadi karena dirinya sendiri, tetapi terjadi karena sesuatu yang lain. Sesuatu yang lain itulah yang dikatakan sebab, sedangkan kejadian itu sendiri disebut dengan akibat atau musabab. Kejadian selalu mengandaikan perubahan, danm seperti yang telah kita singgung, setiap perubahan atau kejadian selalu membutuhkan sebuah Murajjih atau sufficient reason (alasan yang memadai) untuk pengaktualannya . Ketika Tuhan dikatakan sebagai sebab, maka biasanya disebut sebab pertama (Aristoteles, kausa prima), yang menunjukkan betapa Ia adalah sebab paling awal dan paling fundamental dari semua sebab-sebab lainnya. Sebagai sebab pertama, maka Ia sekaligus adalah sumber, darimana segala sesuatu yang lain yakni alam semesta berasal. Kalau setiap kejadian tidak bisa dibayangkan terjadi, kecuali melalui yang lain maka setiap kejadian berarti membutuhkan sebuah sebab, tetapi sebab tersebut sebagai “kejadian pada dirinya”, jika pasti membutuhkan sebab yang lain dan seterusnya. Tetapi betapapun panjangnya rangkaian sebab ini namun tidak terbayangkan kalau rangkaian ini bersifat taksalsul (berlangsung tanpa akhir). Oleh karena itu, maka baik para filusuf Yunani maupun filusuf Muslim sepakat bahwa rangkaian sebab itu harus berhenti pada sebuah sebab yang tak bersebab (The Uncaused), yang disebut Tuhan. 2. Tuhan sebagai wujud niscaya (Wajib Al-wujud) Sebagai filusuf Muslim meyakini bahwa argumen ini tidak memuaskan seperti halnya Ibnu Husna (W.1037) misalnya Tuhan yang dipersepsikan sebagai sebab pertama atau penggerak yang tidak bergerak hanya akan menjelaskan tentang bagaimana peristiwa alam ini terjadi, tetapi tidak secara otomatis menyatakan bahwa Tuhan adalah sumber atau pencipta alam semesta. Oleh karena itu, Ibni Sina berusaha keras untuk mengkonsepsikan Tuhan, yang menurutnya lebih baik, yaitu sebagai wujud yang niscaya . Tuhan menurut Ibnu Sina, adalah Wajib Al -Wujud (wujud niscaya) sedangkan selainnya (alam) dipandang sebagai Mumkin Al-wujud (wujud yang mungkin). Tetapi yang dimaksud sebagai Wajib Al-wujud disini adalah wujud yang senantiasa ada dengan sebenarnya, atau dalam istilah Mulyadi Kartanegara wujud yang senantiasa aktual. Dengan demikian, Tuhan adalah wujud yang senantiasa ada dengan sendirinya dan tidak membutuhkan sesuatu apapun untuk mengaktualkannya. Seperti halnya yang dikemukakan oleh ibn Al-Arabi bahwa Tuhan adalah Wujud dari segala Wujud. Tidak akan ada Maujud (mahluq) kalau tidak ada Wujud (kholiq). Begitupun sebaliknya. Oleh sebab karena adanya Wujud lah Maujud itu ada. Tuhan adalah Wujud satu-satu-Nya. Jika pun ada, itu bergantung pada Wujud itu. Segala sesuatu yang maujud adalah wujud (ada) tetapi bukan wujud. Antara Wujud dan Maujud ini tidak bisa di pisahkan satu sama lain-Nya. Dalam penciptaan materi pertama, Tuhan menciptakan segalasesuatu berpasang-pasangan-sebenarnya, wujud pertama diciptakan tanpa didahului oleh sebuah sebab, namun sebab lain haruslah dianggap sebagai pemikiran yang dating lebih awal. Ibn ‘Arabi mecontohkan dengan pemikiran kenyang dating sebelum makan, pemikiran pemuasan daha dating sebelum minum, keinginan melakukan berbuat baik dating sebelum berbuat,pemikiran atas pahala dating sebelum melakukan perbuatan baik, rasa takut terhadap azabnya dating sebelum berbuat dosa, dan seterusnya. Hal ini tentunya berbeda dengan alam yang dikategorikan sebagai Mumkin Al-wujud artinya wujud potensia sehingga memiliki kemungkinan untuk ada atau aktual, tetapi belum lagi aktual. Sebagai Mumkin Al-wujud alam membedakan dirinya dengan Wajib Al-wujud, disatu pihak dan Mumtani Al-wujud yang mustahil ada atau aktual, karena tidak memiliki potensi apapun untuk mengada di pihak lain. Alam sebagai Mumkin Al-wujud memiliki potensi untuk ada dan berbeda dengan Mumtani Al-wujud yang tidak memiliki potensi untuk ada. Namun alam sebagai potensi, ia tidak bisa mengaktualkan atau mewujudkan dirinya sendiri, karena ia tidak memiliki prinsip aktualitas untuk mengaktualkan potensinya. 3. Tuhan sebagai cahaya Pendapat ini dikemukakan oleh tokoh Suhrawardi dengan istilahnya Tuhan adalah cahaya dari segala cahaya (Nur Al-anwar). Sebenarnya Suhrawardi yang mengkonsepsikan Tuhan sebagai cahaya sebab Al Ghazali sebelumnya juga telah menulis sebuah kitab yang berjudul Misykat Al-anwar. Dalam kitab ini ia juga mengkonsepsikan Tuhan sebagai cahaya meskipun demikian Suhrawardi adalah filusuf Muslim yang mengambil simbol cahaya secara serius dengan konsekuensi logisnya dan ia dijadikan dasar konsep filsafatnya yang dikenal Hikmah Al-isyraq atau filsafat iluminasi menurutnya apapun yang ada di alam semesta terdiri atau terbagi cahaya dengan cahaya illahi yang menjadi sumber sejatinya. Kalau Tuhan dipandang sebagai cahaya maka apakah cahaya itu, dan bagaimana “cahaya” itu dapat “menciptakan” alam semesta? Sifat cahaya adalah terang pada dirinya dan bisa membuat terang pada yang lain. Oleh karena itu cahaya menurut Suhrawardi tidak perlu didefinisikan karena definis dibuat untuk menerangkan. Oleh karena itu, cahaya tidak perlu didefinisikan. Yang lain perlu didenisikan karena belum terang bahkan gelap sehingga perlu cahaya untuk membuat terang. Suhrawardi menggambarkan bagaimana Tuhan sebagai cahaya yang menciptakan alam semesta? Alam ibarat ruang yang sama sekali gelap tetapi tidak kosong melainkan terdapat banyak hal yang secara potensial bisa nampak tetapi karena gelapnya, maka benda-benda atau entitas-entitas potensial ini masih tersembunyi dari penampakannya. Nah ketika Tuhan sebagai cahaya menyinari ruang yang gelap itu, maka satu per satu benda-benda yang tersembunyi menyembul dari kegelapan. Demikian juga alam semesta beserta isinya tidak akan muncul ke permukaan (diciptakan) kecuali setelah tersentuh oleh cahaya dari segala cahaya yaitu Tuhan. 4. Tuhan sebagai wujud murni Filusuf yang mengkonsepsikan Tuhan sebagai wujud murni adalah Mulla Shadra. Dikatakan wujud murni karena berbeda dengan wujud-wujud lainnya yang selalu bercampur dengan esensi (Mahhiyah), Tuhan tidak memiliki apapun kecuali wujud. Ia tidak bercampur dengan Mahhiyah (esensi) Tuhan adalah wujud murni, tanpa esensi. Tuhan, memang diakui Mulla Shadra memiliki sifat tetapi sifat-sifat itu tiadk dikonsepsikan sebagai sesuatu yang berada di luar atau ditambahkan kepada dirinya melainkan identik dengan zatnya. Kalau Tuhan memiliki esensi maka akan terjadi bukan hanya tarkid (komposisi) pada diri Tuhan, yang tak mungkin terjadi, tetapi juga ketergantungan Tuhan pada esensinya. Kalau itu yang terjadi maka Ia akan menjadi Mumkin Al-wujud bukan Wajib Al-wujud demikian juga kalau sifat Tuhan dipandang sebagai sesuatu yang ditambahkan dari luar kepada esensinya maka akan terjadi tarkid yang mengancam keesaan-Nya. Tuhan, sebagai wujud, haruslah esa. Kalau Tuhan dikonsepsikan sebagai ”yang tertinggi derajatnyadi antara wujud-wujud yang lain yang tidak ada apa pun selainnya, yang melampaui ketinggiannya, maka wujud seperti itu haruslah hanya satu, maka pasti tidak akan ada yang tertinggi, tapi itu mustahil. Dan diantara yang keduanya harus ada yang paling tinggi. Kalau kalau di atas tuhan, masih terbayang ada yang lebih tinggi, maka yang lebih tinggi itulah Tuhan. Hal ini yang disebut dengan istilah dalil ontologis. Adapun modus pembuktian adanya Tuhan oleh mulla shadra disebut dalil al-shiddiqin. Argumen (dalil) ini menyatakan bahwa Tuhan sebagai wujud murni, tidak perlu dibuktikan, karena telah terbukti sendiri (self-evident) atau dalam istilahnya sendiri “badihi” . B. Alam Ada beberapa persoalan filosofis yang sangat penting dalam ajaran filsafat islam yang berkaitan dengan alam diantaranya, apakah alam diciptakan melalui kehendak Tuhan atau sebuah keniscayaan logis?, apakah alam abadi atau diciptakan dalam waktu?, apakah alam diatur oleh Tuhan atau melalui sebab sekunder?, adakah evolusi kreatif pada alam? dan sebagainya. 1. Apakah alam diciptakan melalui kehendak Tuhan atau sebuah keniscayaan logis? Ini adalah pertanyaan penting tentang penciptaan yang diperdebatkan oleh berbagai kalangan filusuf islam termasuk para teolog. Dalam pembahasan yang lalu Tuhan diumpamakan sebagai cahaya atau lebih jelasnya diibaratkan seperti matahari, dan alam sebagai pencaran atau cahayanya, pertanyaannya adalah apakah memancarnya cahaya matahari berdasarkan kehendak bebas matahari, atau merupakan sebuah keniscayaan? Hal ini sangat berhubungan dengan teori Imanasi yang dikemukakan oleh para filosof Peripatetik, khususnya Al Farabi dan Ibnu Sina percaya bahwa Tuhan hanya patut memikirkan sesuatu yang paling mulia, yakni dirinya sendiri saja dan tidak pantas memikirkan yang lainnya. Dengan demikian jelas bagi para filusuf di atas alam merupakan pancaran dari kegiatan berfikir Tuhan, tercipta (dalam arti memancar dari Tuhan), tidak melalui kehendakNya, melainkan sebuah keniscayaan logis. Kapan saja ada kegiatan berfikir maka niscaya ada sesuatu yang terpancar dariNya, disengaja atau tidak disengaja . 2. Apakah alam itu abadi atau diciptakan dalam waktu? Permasalahan ini sangat diperdebatkan di antara kaum filusuf dan teolog, para filusuf dikenal sebagai pemikir muslim yang berpandangan bahwa alam itu abadi. Dalam sejarah Filsafat Islam Al Ghazali dengan sangat keras mengecam pandangan para filusuf tentang keabadian alam ini. Bahkan dia mengkafirkan para filusuf. Al Ghazali meyetakan bahwa statement para filusuf bertentangan dengan keterangan Al-Qur’an yang mengatakan “Segala sesuatu yang ada di alam semesta akan musnah (fana) kecuali Allah”, menurut Al Ghazali pandangan para filusuf tersebut tidak logis karena kalau alam itu abadi dan Tuhan abadi maka bagaimana menentukan siapa yang pencipta. Kalau kita mengatakan Tuhan itu abadi, sedangkan alam itu baru atau diciptakan maka kita akan mudah menunjukkan secara logis bahwa Tuhan adalah pencipta alam. Tetapi kalau kita mengatakan alam itu abadi, artinya telah ada sejak dulu bersama-sama Tuhan, maka tentu kita akan mengalami kesulitan untuk mengatakan bahwa Tuhan adalah pencipta alam, karena betapapun pencipta harus mendahului ciptaannya . Kritik di atas para filusuf khususnya Ibnu Rusyd mencoba memberikan penjelasan yang logis. Kalau kita kembali pada teori Emanasi dan Tuhan diibaratkan sebagai matahari sebagaimana contoh Tuhan (sebagai matahari) dan alam (cahayanya), maka tentu cahaya matahari akan ada bersamaan dengan matahari itu sendiri karena begitu ada matahari niscaya ada cahayanya. Tetapi bukankah masih dalam batas kemungkinan bahwa sekalipun sinar matahari ada bersamaan dengan adanya matahari, tetapi tetap saja matahari disebut sebagai sebab bagi sinar yang dipancarkannya . 3. Apakah alam diatur langsung oleh Tuhan atau melalui sebab sekunder? Hal ini berkaitan dengan permasalahan teolog yaitu apakah alam sebagai ciptaan Tuhan yang diatur secara langsung atau melalui perantara? Para teolog Al Asyariyyah sebagai bentuk protes kepada Mu’tazillah, mengatakan bahwa Tuhan adalah sebab langsung bagi apapun yang ada di alam semesta ini dan untuk menguatkan pendirian mereka dengan mengemukakan teori atom yang menurut hemat Majib Fachri dipinjam dari pemikir India. Menurut teori ini alam terdiri dari atom-atom. Tetapi atom-atom tersebut hanya bertahan satu sampai dua saat lalu musnah. Nah, untuk mempertahankan keberadaan alam ini maka Tuhan harus menciptakan atom-atom sejenis setiap ada atom yang lama musnah berarti Tuhan dipandang oleh mereka sebagai yang mencipta setiap saat. Dari pandangan di atas dapat dikatakan Tuhan adalah sebab langsung bagi semua peristiwa yang ada di alam semesta tapi disisi yang lain Tuhanpun kadang menggunakan perantara seperti malaikat untuk menyempaikan wahyu kepada nabi dan sebagainya. Kalau kembali keajaran Peripatetik khususnya Ibnu Sina tentang akal aktif (Al-Aql Al Fa’al) sebagai pemberi bentuk (Wahib Al shuar), maka di sana jelas betapa sebab langsung pembentukan alam di bawah bulan bukanlah Tuhan sendiri, tetapi akal aktif sedangkan istilah sunatullah yang dinyatakan dalam Al-Qur’an sebagai sesuatu yang tidak akan berubah . 4. Apakah alam berkembang secara evolutif atau “fixed”? Kita pada umumnya berfikir bahwa alam diciptakan sekali, dan apapun yang terjadi di alam raya telah ditentukan secara fixed-deterministic sebelumnya pandangan pre deterministic ini dalam sejarah pemikiran Islam antara lain dikemukakan oleh para teolog-teolog rasionalis antara lain teolog Mu’tajillah khususnya Anazham dalam apa yang disebut sebagai teori Latensi (khumun). Menurut pandangan ini, penciptaan terjadi sekali dan untuk selamanya tetapi tidak semua yang telah diciptakan tersebut teraktualisasi secara sekaligus. Tetapi kita juga melihat beberapa pemikir khususnya para sufi dan filusuf yang berfikir bahwa alam berkembang secara evolutif kreatif, dan karena itu mereka percaya bahwa penciptaan itu terjadi secara terus-menerus dalam sejarah pemikiran Islam teori ini telah dikemukakan dalam tulisan Al Jahizh, yang dalam kitabnya Al Hawayan memperhatikan betapa burung-burung yang telah bermigrasi mengalami perubahan-perubahan yang sangat gradual. Namun Ibnu Maskawenah lah yang sangat serius dalam pemikiran ini seperti yang dikatakan Iqbal dalam bukunya The Development of Metafisical in Thought in Persia khususnya dala kitabnya Al Fauz Al Ashghar memperlihatkan evolusi pada alam misalnya dikatakan bahwa alam tumbuh mengalami perkembangan yang semakin sempurna, dan tercapai puncaknya pada pohon kurma yang telah bisa membuahi dirinya sendiri karena sifatnya yang biseksual. Pandangan penciptaan evolutif kreatif lebih jelas lagi dalam karya-karya Jalal Al Din Rumi, khususnya Al Matsnawi, yang menjelaskan dengan gamblang jalannya proses evolusi yang dialami oleh alam hingga tercapai tingkat manusia. Manusia telah dipandang oleh Rumi berevolusi dari dunia mineral, tumbuhan, hewan dan akhirnya manusia. Rumi percaya bahwa evolusi akan berlangsung setelah kematian manusia. Pandangan penciptaan kreatif evolutif juga dikemukakan oleh Muhlasadra dalam teorinya yang terkenal dengan istilah gerakan substansial (Al Harakah Al Jauhariyyah) . Menurut teori ini alam terus berubah, bukan hanya pada taraf aksidental tetapi juga substansial. Mullashadra berkata setiap perubahan pada aksiden membutuhkan juga perubahan pada tingkat substansi . C. Manusia Dalam pembahasan manusia setidaknya ada tiga pembahasan yang sangat penting yang sering di jelaskan dalam kajian filsafat islam ertama Manusia sebagai mikrokosmos, kedua theomorfis, dan ketiga manusia dan kebebasannya. 1. Manusia sebagai mikrokosmos Manusia disebut mikrokosmos karena sekalipun kecil tetapi didalamnya ia mengandung semua unsur kosmic, dari mulai mineral, tumbuhan, hewan, bahkan unsur malaikat dan unsur illahi (berupa ruh yang ditiup Tuhan kepada dirinya), hal ini yang membuat mahkluk dikatakan sebagai mahkluk dua dimensi yaitu mahkluk fisik dan spiritual . 2. Manusia sebagai theomorfis Para sufi cenderung percaya bahwa manusia sebagai tujuan akhir penciptaan. Berdasarkan pada hadis qudsi yang mengatakan: kalau bukan karena engkau niscaya tidak akan Aku ciptakan alam semesta . 3. Manusia dan kebebasannya Tema ini berhubungan dengan paham Jabariyah maupun Qadariyah. Kaum Jabariyah mengatakan apapun yang dilakukan manusia semuanya telah ditentukan terlebih dahulu oleh Tuhan sedangakan Qadariyah menyatakan sebaliknya bahwa manusia adalah yang menentukan tindakan-tindakannya .

DAFTAR PUSTAKA Kartanegara, Mulyadi, MA Prof. Dr., Gerbang Kearifan, Sebuah Pengantar Filsafat Islam, (Jakarta, Lentera Hati,2006) Hardiman, F. Budi, Melamau positivisme dan modernisme (Jakarta, Kanisius, 2003) Ibn ‘Arabi Penj. Hodri Ariev, Menata Diri dengan Tadbir Illahi terjm dari kitab Tadbirat al-Illahiyyah fi Ishlah al-Mamlakah al-Insaniyyah (Jakarta, Serambi, 2004). Leaman, Oliver Penj. Musa Kazhim dan Arif Mulyadi, Pengantar filsafat Islam, (Bandung; Mizan; 2002) Muthahhari, Murtadha Penj. Tim Mizan, Pengantar Pemikiran Shadra, Filsafat Hikmah, (Bandung; Mizan, 2002)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s