TIdak Selamanya YAng Gelap itu tidak bermanfaat

n1563296421_6918oleh: Umar Sahid

Bismillahirrahmaanirrahiim
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh.

Gelap….yah..gelap….
Apakah semua yang namanya gelap itu jelek dan tak bermanfaat?
Tidak….terang dan gelap masing-masing memiliki manfaat

Hari ini, aku menonton sebuah film, sambil aku menggosok pakaian-pakaian, lantas ada kalimat menarik yang kudengar. Yah..itu dianya ;”Setiap yang terang dan gelap ada manfaatnya”.

Flm itu mengkisahkan seseorang yang sudah patah arang akan nasibnya yang lumayan sengsara, padahal ia seorang yang kaya. Kekayaan bukanlah segalanya, karena pada hakikatnya lelaki itu sangat menderita, dikarenakan ia telah tertipu memiliki seorang istri yang ternyata punya penyakit Gila, ia dijodohkan dengan istrinya itu, sehingga ia tak dapat bersenang-senang dengan sang putri raja tersebut.

Suatu kali, ia pergi berjalan-jalan dekat istananya dengan menunggang seekor kuda putih, namun malang tak dapat di tolak, ia terjatuh, sampai tak bisa berjalan lagi, dan seorang perempuan kebetulan ada disana menolongnya.

Sudah ditolong oleh perempuan itu, bukannya ia malah berterimakasih, malah bersikap dingin dan sinis. Sang perempuan yang memang sudah berpengalaman dalam banyak hal, terutama menghadapi berbagai type manusia hanya mengatakan sepatah kata :” Tidak selamanya yang gelap itu tak bermanfaat”

Kata-kata ini rupanya begitu terngiang-ngiang ditelinga sang raja, dan juga diriku yang sedang menggosok itu.

Yah,..aku berfikir, memang benar, kalau tanpa langit gelap, manalah mungkin cahaya bintang dan bulan yang indah itu kelihatan jelas. Dengan adanya kebutaan mata, bisa jadi si Buta tadi, terhindar dari melihat yang diharamkan Allah Ta’ala.

Aku jadi teringat firman Allah Ta’ala, ” Bahwa bisa jadi apa yang engkau bencii, justru ia baik untukmu, dan apa yang engkau sukai, bisa jadi jelek untuk dirimu”

Segala rintangan, cobaan kepahitan hidup yang kita hadapi, tidak selamanya berdampak buruk untuk diri kita. Sepanjang kita merasakan bahwa apapun yang terjadi pada diri kita, bisa jadi itulah yang terbaik untuk diri kita. Asalkan kita selalu berprasangka baik pada Allah Ta’ala, dan mengambil hikmah segala kejadian/segala cobaan/bala buruk yang menimpa diri kita. Seperti kata orang negeri seberang sana :”Positive thinking sajalah”. Negeri Arab bilang :Husnu Dzann(baik sangka) pada Allah Ta’ala.

Terkadang, hati kita sakit dibohongi oleh orang yang kita cintai, atau sahabat dekat kita, atau anak-anak kita, atau siapapun yang dekat dengan kita, yah..jelek sekali kelihatannya. Namun, mari cobalah kita berbaik sangka selalu, mungkin saja kebohongannya itu justru untuk menjaga hati, menjaga keutuhan RT, keutuhan hubungan kita.

Orang yang selalu berpikiran positif, hidupnya akan selalu tenang, damai, tidak resah dan gelisah. Karena ia sadar bahwa segala sesuatu sudah diatur yang maha kuasa. Rasa Iman, rasa percaya pada Allah yang terkadang membuat seseorang terbiasa sabar dan tabah serta tenang dalam menghadapi alang merintang, cobaan dan ujian hidup ini.

Ada sebuah hadits yang sudah sangat terkenal dikalangan ummat islam, yakni sebuah hadits derajatnya shahih.

Tanda-tanda orang yang Munafiq tiga. Apabila ia berbicara ia berdusta, apabila ia diberi amanah, dia khianat, apabila ia berjanji ia tidak menepatinya”.

Lantas, adakah diantara kita bersih dari kedustaan? Saya rasa tidaklah. Hampir rata-rata kita pernah berdusta. Yang jadi permasalahan adalah kedustaan itu bukanlah suatu watak, tetapi suatu keterpaksaan.

Akh..benarkah..bisa jadi benar, bisa jadi salah.
Kalau kita pernah berdusta, berarti salah satu diantara tanda-tanda orang Munafik kita miliki bukan? So pastilah…

Lantas, apakah dengan memiliki salah satu ciri tanda kemunafikan itu, lantas kita termasuk didalam ayat AlQuran bahwa ganjaran orang munafiq adalah berada “didalam neraka yang terdalam”?…

Tentu tidaklah, tidak sebegitu sekali kerasnya ajaran Islam. Masih ada toleran dan dari beberapa kedustaan yang lebih diringankan, atau pengecualiannya, semacam dalam hadits yang cukup mashur juga, namun derajatnya ada perawi yang lemah, ada yang kuat, namun ia begitu banyak memiliki jalan periwayatan, dan ia ada dalam beberapa kitab Sunan, bahkan hadits inipun termaktub dalam shahih
Muslim. Bunyinya seperti ini:

Dari Hamid bin Abdirrahman dari Ibunya, ia berkata. Rasulullah
Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: ” Tidaklah dikatakan dusta seseorang yang berdusta demi kebaikan untuk mendamaikan dua orang yang bermusuhan, kemudian dusta dalam peperangan(alharbu khid’ah=peperangan itu tipu muslihat), kedustaan seorang suami kepada istrinya dan istri kepada suaminya(untuk menjaga keutuhan RT, atau mungkin menyenangkan hati pasangannya). Sayur keasinan dikatakan enak juga, toh bukankah ia dusta? Jelas dusta toh…tapi salahkan dustanya tersebut?

Tentu tidaklah, karena ia ingin menghargai kerjaan istrinya yang sudah
capek-capek masak, koq malah di cerca? Tentulah meskipun asin, dia bilang enak, atau lebih baik diam saja.

Inilah salah satu contoh, tidak selamanya yang gelap itu berbahaya, gelap itupun ada manfaatnya juga.Berbaik sangka, positive thinking lah selalu. Sabar dan tenang dalam menghadapi gelombang kehidupan ini, agar kapal selamat sampai ke tujuan tepi pantai, daratan luas menanti kita.

Wassalamu’alaikum.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s