ISLAM YES PARTAI ISLAM NO:Masihkah Relevan?

Pada era 70-an, wacana Islam Yes Partai Islam No sangat Populer di negeri ini. Gagasan ini dilontarkan oleh Nurcholis Madjid yang sebelumnya dengan gencar telah mendengungkan wacana “sekularisasi”. Ide itu muncul setelah Partai-partai Islam pada masa lalu kurang bisa merepresentasikan kepentingan umat. Bahkan ketika Masyumi memenangkan pemilu dan menempatkan Mohammad Natsir sebagai Perdana Menteri pun tetap tidak dapat mengatasi permasalahan seperti krisis ekonomi, moneter, dan sosial politik bangsa. Nurcholis ingin menjernihkan kembali konsep dakwah Islam tanpa adanya maksud politik yang secara konseptual dianggap bernuansa subhat, dan cenderung menjadikan umat islam sebagai korban atas ambisi sekelompok orang yang mengatasnamakan agama.

Alhasil, doktrin ini mengakar sangat kuat, sehingga sampai saat ini pun masih banyak umat islam, baik dari kalangan tradisional maupun dari kalangan intelektual yang masih memegang teguh jargon tersebut. Kita masih Alergi dengan yang namanya Politik, Parlemen, kekuasaan, dan lain-lain. Alasannya sederhana, bahwa umat islam tidak seharusnya berada dalam ajang politik, mereka tidak pandai dalam berpolitik,mereka terlalu “bersih” untuk dikotori oleh politik,  karena yang ada di politik hanyalah semata-mata untuk mencari kekuasaan, dimana untuk mencapainya bisa ditempuh dengan segala cara, yang tidak jarang melanggar norma-norma agama. Disini islam diproteksi dari nilai-nilai buruk, begitu alasan mereka. Di lain pihak banyak umat Islam sudah tidak percaya lagi, karena ternyata partai Islam pun juga dianggap sama saja. Mereka telah gagal membawa perubahan. Sejarah telah mencatatat itu ketika Mohammad Natsir menjadi Perdana Menteri. Disini sudah tidak ada kepercayaan bahwa partai Islam akan membawa perubahan.

Ya, itulah alasan yang dilontarkan oleh mereka yang tidak sepakat bila umat islam terjun ke dunia politik, dengan alasan politik itu kotor. Awalnya saya sepakat dengan ide itu, namun ada beberapa pertanyaan yang membuat saya goyah: “Kalau memang politik itu kotor, dan umat islam tidak boleh masuk kesana, berarti parlemen (DPR) itu nanti akan diisi oleh orang orang “kotor” dong? Kalau sudah begitu, bagaimana bisa bangsa ini keluar dari segala “kekotoran” ini, kalau DPR isinya orang “kotor” semua? Bagaimana caranya kita memperbaiki Bangsa ini? Kalau semua isinya orang kafir, maka bangsa ini juga akan dikuasai oleh orang kafir, dipimpin oleh orang kafir dan untuk kepentingan orang kafir. Hasilnya, umat islam akan selalu kalah melawan orang kafir, karena merekalah yang membuat undang-undang.” Wah….! Ngeri juga ternyata..! Jika demikian yang terjadi, maka kita akan menjadi umat yang rapuh, umat yang hanya diombang-ambingkan tanpa bisa melawan.

Satu hal lagi yang cukup mendasar, bukankah kita mengetahui bahwa islam itu menyeluruh (Syamil), mencakup segala aspek kehidupan, namun kenapa kita membatasi diri, hanya karena alasan yang sebenarnya memang “masuk akal”, namun malah menyesatkan( misalnya: orang tidak mau beramal karena riya. Atau orang yang mencuri karena terdesak. Sepintas, alasan mereka masuk akal, namun tidak bisa dibenarkan, alias alasan yang salah kaprah). Islam diturunkan oleh Allah mencakup semua masalah kehidupan. Jika kita menilik kembali perjalanan Rasulullah dalam menyebarkan Islam, kita mengetahui bahwa Islam pada saat itu sudah mengatur sebuah Negara(Negara Madinah), meskipun tidak melulu seperti definisi Negara/bangsa yang dikemukakan pakar negarawan, namun pada saat itu telah ada yang namanya pemimpin, Syuro (musyawarah) dan pembagian peran diantara masyarakat, bahkan sistem perekonomian, sistem hukum, militer, tata kota, dan arsitektur-pun sudah ada. Lantas, mengapa kita juga masih alergi, padahal sudah dicontohkan oleh Sang Teladan Utama.

Hanya saja ketika kita ingin masuk ke dalam sistem kekuasaan, umat Islam harus mempunyai sistem yang jelas, penjagaan yang mantab, agar jangan sampai terpengaruh perilaku kotor para anggotanya. Bahkan di dalam parlemen pun umat Islam bisa berdakwah. Menunjukkan bahwa stigma kotor itu bisa dibersihkan. Berdakwah lewat parlemen (istilah untuk aktifitas politik umat islam) tidak ada dalil qoth’i yang melarangnya. Yang terjadi adalah perbedaan penafsiran, karena ini adalah masalah furu’ (cabang) yang diperbolehkan berbeda pendapat. Untuk lebih jelasnya bisa dibaca dalam buku Fatwa-fatwa Kontemporer jilid II bagian VIII- Lapangan Politik dan Pemerintahan karya Yusuf Qardhawi.

Bahkan selama masih konsisten memperjuangkan islam, menurut Satria Hadi Lubis (2006: 179), berdakwah melalui parlemen memiliki beberapa keuntungan. Di bawah ini saya kutipkan beberapa hal diantaranya:

1.      Aspirasi Islam dan Umat Islam dapat disalurkan secara lebih sha (legitimate) melalui lembaga parlemen.
2.      Dapat berdakwah kepada berbagai pemimpin pemerintahan dan masyarakat secara lebih terbuka dengan akses lebih luas.

3.      Dapat mewarnai terbentuknya undang-undang yang lebih berpihak kepada umat islam dan umatnya.
4.      Dapat memperoleh kepercayaan dari masyarakat untuk memperjuangkan aspirasi mereka melalui parlemen sebagai wakil rakyat
5.      Dapat mengontrol jalannya pemerintahan secara formal dan sah.
6.      Dapat memperoleh berbagai akses strategis stretegis( informasi, personal, dan lain-lain) yang berguna bagi kepentingan jamaah (umat muslim-pen)

Saat ini, kita bisa melihat dakwah parlemen yang dilakukan oleh umat islam- yang barangkali awalnya berasal dari sebuah partai, sudah menjadi trend yang cukup mengurangi kesan buruk yang dilabelkan pada lembaga perwakilan rakyat tersebut. Dari beberapa poling didapatkan bahwa partai yang dianggap paling bersih, sampai saat ini adalah partai islam. Dari data KPK pula disebutkan, bahwa partai yang paling aktif mengembalikan angpao dari pejabat daerah dan pejabat dari institusi lain juga Partai Islam. Yang pada gilirannya sudah mulai diikuti oleh partai-partai lain. Tidak bisa disangkal ini adalah era baru kebangkitan politik islam.

Bukankah Allah sudah berjanji untuk menjadikan Umat islam berkuasa di muka bumi, tetapi kenapa umat islam justru alergi dengan kekuasaan( baca: politik),

Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.( An Nuur: 55)

Maka pertanyaannnya sekarang apakah jargon Islam Yes Partai Islam No masih relevan untuk saat ini? Sudah siapkah kita untuk diperintah oleh orang kafir, yang tidak mengindahkan aspirasi umat islam? Atau kalau tidak sudah siapkah engkau menjadi Pejuang-pejuang islam, dimanapun engkau berada? Pada ranah apapun, termasuk ranah Politik? Silakan pikirkan jawabannya sendiri.

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s