Poeze : Indonesia Punya Trauma Politik

hary pozeNama Harry A Poeze bukanlah nama yang asing dalam perkembangan dunia intelektual Indonesia sampai hari ini. Direktur KITLV Press, Institut Kerajaan Belanda Untuk Studi Karibia dan Asia Tenggara ini telah 40 tahun meneliti sosok Tan Malaka.

Selama bertahun-tahun, ia bekerja seperti mencari jarum di tumpukan jerami untuk mengetahui seperti apa sosok Tan Malaka. Dari hasil penelitiannya itu, rakyat Indonesia menjadi tahu sepak terjang orang yang dicap berbahaya karena keterlibatannya dengan Partai Komunis Indonesia. Poeze pun pernah menyebut Tan Malaka sebagai “Che Guevara Asia”.

Banyak hal telah didapatkan Harry A Poeze hingga penelusurannya ke DusunSelo Panggung. Kecamatan Semen, Kediri. Di situlah ia yakin bahwa “tawanan yang dibunuh tentara” waktu itu adalah Tan Malaka.

Prabowo Setyadi dari KabarKampus.com bersama fotografer Febryadi Bondan berkesempatan melakukan wawancara dengan Harry A Poeze usai menjadi pembicara dalam diskusi kajian historis Peristiwa Madiun 1948 di Aula Utama Unisba, Bandung, Kamis (05/01). Berikut petikan wawancara mereka.

Apa pekerjaan anda?

“Saya bekerja di perusahaan penerbitan di Leiden, yang khusus meriset tentang Indonesia. Saya sudah 30 tahun bekerja disana.” Dan saat ini sedang dalam pengerjaan buku tentang Tan Malaka yang terbagi dalam 6 jilid. Salah satu jilidnya yaitu buku ini. Madiun 1948: PKI BERGERAK.

Kenapa harus Tan Malaka?

“Sewaktu saya mahasiswa di Universitas Amsterdam tahun 1970 –an saya harus tulis skripsi. Waktu itu saya ikut salah satu jurusan yang disebut sejarah asia. Maka dari itu saya sering baca sejarah Indonesia. Dibuku itu Tan Malaka sering disebut sebagai pengembara dan juga Tan Malaka disebut seorang yang misterius yang suka mengembara di Eropa, di Asia. Selain itu juga karena Tan Malaka menolak pemberontakan Madiun 1948 itu yang dipimpin oleh Muso. Tan Malaka seorang yang penting yang perjalanan hidupnya mirip dengan sejarah Indonesia ini untuk meraih kemerdekaan.

Bagaimana proses pencarian informasi tentang Tan Malaka sampai anda yakin di Dusun Selopanggung. Kediri, adalah lokasi makam Tan Malaka?

“Saya ke sana 3-4 kali. Yang pertama kali saya tidak mengira kalau di Selopanggung lokasi makam Tan Malaka. Tetapi setelah riset lagi dalam bentuk wawancara dengan orang yang tinggal di sana dan beberapa arsip. Hingga Saya yakin Tan Malaka ditangkap dan ditembak mati disana, juga dikuburkan. Ini dapat dilihat dari buku yang saya tulis dalam bahasa belanda tahun 2007. Dalam buku itu belum ada keyakinan 100 persen, namun setelah itu ada wartawan dari Surabaya yang datang ke Selopanggung. Mereka meneruskan riset saya, dan ada pendapat baru. Atas dasar itu saya datang lagi ke Selopanggung lagi untuk melakukan riset lanjutan. Hingga ada penggalian makamnya atas inisiatif keluarga Tan Malaka sendiri.

Apakah ada bukti otentik nya?

 

“Atas dasar hasil otopsi. Semuanya cocok dengan tan malaka. Tingginya, umurnya yang bisa ditetapkan oleh tim forensik, serta posisi tangan yang terikat kebelakang. Tapi ada kesulitan dalam tes DNA karena kerangka sudah sangat lapuk. Dan setelah penelitian di Jakarta tidak ada hasil. Kemudian dikirim ke Korea Selatan atas pertimbangan teknologi yang lebih maju. Dan penelitian itu sudah selama 2 tahun. Dan ada kabar dari keponakan Tan Malaka kalau hasil penelitian forensik akan diumumkan bulan Januari 2012 ini. Belum ada tanggal pasti. Tapi saya harap akan ada pernyataan resmi dari tim forensik itu sendiri.

Kenapa Tan Malaka dikategorikan orang yang berbahaya?

“Karena Tan Malaka pernah ikut Partai Komunis. Tapi keluar pada tahun 1927. Dan sesudah itu Tan Malaka orang yang bebas dan mandiri,. Tetapi  tetap kiri. Radikal. Meskipun tidak ikut komunisme stalin. Dan waktu itu zaman orde baru ada ketakutan komunisme besar sekali. Orang-orang waktu itu tidak bisa membedakan mana partai komunis Aidit dan partai radikal kiri Tan Malaka. Karena ada rasa tidak senang, mereka memutuskan untuk mencoret Tan Malaka dari buku-buku sejarah tentang Indonesia, walaupun oleh Soekarno pernah disahkan menjadi pahlawan nasional pada tahun 1963.

Anda kan orang asing. Apakah kesulitan melakukan penelitian tentang Tan Malaka?

“Penelitian saya ini adalah mencari fakta sejarah tentang persoalan yang dkhususkan oleh beberapa pihak. Usaha saya melakukan penelitian ini lebih seperti kerja seorang detektif. Mungkin karena untuk meneliti sejarah di Indonesia sangat susah aksesnya. Mungkin juga trauma politik masih ada pada sebagian masyarakat Indonesia. Apalagi ini saya meneliti Tan Malaka yang banyak disebut seorang Komunis.

Anda melihat perkembangan Indonesia sekarang ini seperti apa?

“Ini yang sangat menarik. Kebebasan pers, berserikat, berkumpul dan kebebasan menerbitkan buku sangat besar sekali hari ini. Dan ini berlainan sekali dengan dulu. Ini juga dorongan besar untuk mempertinggikan hak-hak asasi manusia. Kalau ada insiden seperti di Bima. Dulu dipadamkan, ditutup sama sekali. Tapi sekarang komunikasi modern sangat berpengaruh positif. Semua bisa mengetahui kejadian di daerah lain dengan cepat.

Apa yang akan anda lakukan setelah ini?

“Selanjutnya dari sekarang, saya harus sedikit hati-hati karena saya dari orang luar Indonesia. Saya juga berharap mahasiswa yang menjadi ujung tombak perubahan bisa menciptakan situasi yang lebih aman dari sekarang. Karena situasi di Indonesia dapat dengan mudah berubah setiap saat.[]

http://kabarkampus.com/2012/01/poeze-indonesia-punya-trauma-politik/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s