Agama dan Negara Pernah Mesra

 Oleh: Rosita Budi Suryaningsih

Worldreport.com
Konstantin Agung.
Konstantin Agung.

Oleh: Rosita Budi Suryaningsih

Pemisahan agama dan negara di Barat dipicu ketidakpuasaan warga terhadap ulah kotor oknum agamawan.

Agama dan negara pernah mesra sepanjang sejarah. Di Mesir Kuno, Raja Firaun selalu menganggap dirinya Tuhan atau perwakilan Tuhan. Pada abad keempat Kekaisaran Romawi mulai menerapkan keharmonian antara agama dan negara.

Raja selalu didampingi pendeta. Tujuannya, memberikan legitimasi setiap kebijakan kerajaan yang diambil. Susunan ketatanegaraan dan hukum dalam negara tersebut dibuat dalam bentuk dogma agama atau semata-mata atas dasar ketuhanan.

Konstantin Agung (305-337 M) menjadikan Bizantium sebagai ibu kota Romawi dan Kristen sebagai agama negara.

Ia kemudian banyak mendirikan gereja-gereja di daerah kekuasaannya, menyerukan nyanyian-nyanyian bersama, serta segala kegiatan berdasarkan gereja Kristen. Kewenangan seperti ini berlanjut terus, khususnya di daratan Eropa.

Pengaruh gereja semakin kuat dalam pemerintahan. Gereja mengendalikan seluruh kehidupan bernegara dan beragama yang berada di bawah kewenangannya.

Sering kali, gereja mengambil tindakan yang terlampau tegas, kebijakan yang dikeluarkan pun banyak yang tidak sesuai dengan kebutuhan rakyat. Masyarakat pun merasa terkekang hingga menyebut masa sampai dengan sekitar abad ke-14 sebagai Dark Ages (zaman kegelapan).

Meski mereka agamawan, mereka bukanlah manusia yang sempurna. Justru, dalam memegang kekuasaan tersebut mereka sering menyalahgunakan. Para agamawan yang menjadi penentu kebijakan negara tersebut terbukti banyak melakukan tindakan korupsi.

Adalah Marthin Luther dan John Calvin yang kemudian mengemukakan berbagai bukti kesalahan-kesalahan yang dilakukan gereja. Misalnya, hukuman terhadap para ilmuwan yang dianggap menentang kekuatan gereja, seperti Nicolaus Copernicus dan Gallileo Galilei.

Salah seorang pemuka agamawan Katolik, yaitu Paus Leo X terbukti memperoleh uang lebih dari lima juta dolas AS per tahun karena suap dan penjualan jabatan gereja. Tak berhenti sampai di situ, pihak gereja yang penuh kuasa juga menjual surat pengampunan dosa dengan harga selangit.

Learnnc.org
Aksi melawan hegemoni agama (ilustrasi).
Aksi melawan hegemoni agama (ilustrasi).

Oleh: Rosita Budi Suryaningsih

Belajar dari masa kelam ini, timbullah keinginan masyarakat Eropa untuk melepaskan diri dari kekuatan gereja. Mereka khawatir dengan dampak buruk negara agamawi.

Mulai abad ke-11, muncul gerakan protes dan perlawanan sosial yang menentang dominasi dan eksploitasi kaum gereja. Di Prancis, muncul sosok pedagang kaya bernama Peter Waldensons yang mengerahkan pengikutnya untuk menyerang hierarki gereja.
Hal yang sama dilakukan pula oleh kelompok masyarakat di daerah yang lain. Pada 1073 meletuslah peristiwa Pembaruan Hildebrandine yang merupakan pemberontakan melawan kemapanan dan sikap eksploitasi eksklusif kaum gereja.

Proses penentangan pada gereja ini memuncak pada abad ke-15 hingga 16 yang kemudian meruncing pada pengusungan ide sekularisme. Kekuasaan dominasi gereja beserta dogmanya berhasil diruntuhkan, dipinggirkan dalam ranah privat.
Babak selanjutnya, kekuasaan negara dipegang secara autokrasi, dipegang oleh satu pihak pemerintah saja tanpa campur tangan gereja.

Abdullah Ahmed An-Na’im dalam bukunya Islam dan Negara Sekularmenuliskan bahwa berbagai negara kemudian mengambil sikapnya sendiri menghadapi runtuhnya kepercayaan publik pada Katolik Roma.
Inggris, misalnya. Pada abad ke-16 Raja Henry VIII memutuskan untuk mengambil alih kontrol terhadap gereja dari kekuasaan Paus. “Ia melakukan sekularisasi kultural dengan membuat Gereja Inggris yang terpisah dari kekuasaan Paus,” tulisnya.

Hal ini semakin dikukuhkan pada masa kekuasaan Ratu Elizabeth I yang menetapkan Gereja Protestan sebagai gereja resmi negara di bawah otoritas kerajaan. Gereja bukan lagi sebagai pengatur kebijakan negara.
Swedia juga memutuskan untuk menjadi sekuler. Bahkan, lebih sekuler dari Inggris karena benar-benar memisahkan secara legal antara agama dan negara.

Sejak abad ke-16, Swedia mengubah wajah negaranya menjadi homogen, menjadikan agama evangelis menjadi agama negara. Toleransi pada praktik agama lain pun tak pernah muncul hingga akhir abad ke-18.

Rusia justru berbeda. Rusia secara hukum dan sosial telah lama menjadi negara sekuler.

Pemisahan antara agama dan negara dibatasi dengan undang-undang yang membolehkan negara membatasi kebebasan beragama.

Tapi, akhir-akhir ini justru Rusia malah mendorong penegasan kembali Gereja Ortodoks Rusia sebagai gereja negara, meski tidak melalui instrumen hukum.

Amerika Serikat juga memutuskan untuk memisahkan urusan agama dengan negara. Setelah Revolusi Amerika terjadi, para pendiri negara ini sepakat memutuskan sejumlah prinsip.

Di antaranya, hak individu untuk memeluk suatu agama dan menjalankan kewajibannya tanpa paksaan dari negara. Tidak ada gereja resmi negara, tidak ada tes keagamaan untuk pegawai pemerintahan, dan pentingnya kebebasan untuk mempraktikkan agama.

Prancis punya cerita tersendiri. Prancis telah memiliki tradisi untukmemisahkan antara negara dan gereja sejak lama.

“Sejak Revolusi Perancis, kami mendukung istilah laicite, yaitu netralitas negara terhadap agama,” ujar Kanselir Urusan Agama Kementerian Luar Negeri Perancis Roland Dubertrand di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Dalam seminar bertajuk “State and Religion” yang digelar Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tersebut, Dubertrand mengatakan, Prancis merespons ketegangan hubungan agama dan negara dengan memberlakukan sekularisme yang tegas, memisahkan antara agama dan negara dengan ketatnya.

Sayangnya, simbol-simbol keagamaan di Prancis pun diperketat jika berhubungan dengan negara dan instusi pemerintah lainnya, seperti sekolah. Padahal, jumlah Muslim di sana semakin bertambah. “Muslim di Prancis menempati kelompok terbesar kedua setelah Katolik,” jelasnya.

Namun, hingga kini belum ada organisasi terpusat yang bisa membawahi dan mengakomodasi kebutuhan Muslim di sana. Padahal, kelompok Protestan dan Yahudi telah memilikinya.

Paham sekularisme atau pemisahan antara agama dan negara memang diawali dari pengalaman sejarah Eropa. Tapi, pengalaman historis yang mengena pada dunia Islam sangatlah berbeda.

Theitinerantminister.com
Era teokrasi.
Era teokrasi.


Antara teokrasi dan sekuler
Dua istilah yang tak pernah terlewatkan dalam topik hubungan antara agama dan negara ialah teokrasi dan sekuler.

Teokrasi adalah sebuah bentuk pemerintahan yang menjadikan prinsip-prinsip ketuhanan sebagai pedoman pemerintahan. Dalam negara teokrasi, prinsip-prinsip ketuhanan memegang peran utama.

Kata teokrasi berasal dari bahasa Yunani, theokratia. Theos artinya tuhan dan kratein memerintah. Teokrasi artinya pemerintahan oleh wakil tuhan. Teokrasi adalah bentuk pemerintahan yang dijalankan berdasarkan prinsip ketuhanan.

Sedangkan, sekularisme sebaliknya. Justru, prinsip ini memisahkan urusan negara dengan agama.

Dalam Ensiklopedi Oxford Dunia Islam Modern yang disusun John L Esposito, sekularisme bermakna “bukan agama”. Kata sekularisme berasal dari bahasa latin saeculum, yang awalnya berarti “masa” atau “generasi” dalam arti waktu temporal.

Kata ini kemudian meluas maknanya menjadi segala hal yang berhubungan dengan dunia, pembedaan dengan masalah spiritual yang tujuannya untuk mencapai surga.

Dalam bahasa Prancis, sekularisme disebut laicite yang makna aslinya adalah masyarakat biasa, mereka yang bukan kelompok pendeta.

Dalam bahasa Arab, tidak ditemukan kata yang persis dengan sekularisme. Pada abad ke-19 digunakan kata peyoratif dahriyah yang berarti materialistis atau ateis, orang yang percaya dengan keabadian dunia dan tidak percaya dengan spiritualitas. Akar dari kata ini adalahdahr yang artinya serupa dengan saeculum.

Umumnya, kini dalam bahasa Arab sekularisme disebut dengan ilmaniyahyang akar katanya merujuk pada sains dan ilmu pengetahuan serta yang kata turunannya paling dekat dengan makna dunia atau persoalan duniawi.

Aksitarih.com
Era Dinasti Ottoman.
Era Dinasti Ottoman.

Fakta

  • Agama dan negara menyatu sejak zaman Rasulullah SAW. Tradisi itu diteruskan oleh dinasti-dinasti dan dilanjutkan pula oleh Dinasti Ottoman yang runtuh pada 1924.
  • Pemisahan agama dan negara di dunia Barat muncul mulai abad ke-11. Gerakan protes dan perlawanan sosial yang menentang dominasi dan eksploitasi kaum gereja.
  • Paham sekuler ini pertama mulai mendunia ketika Harvey Cox menulis sebuah buku berjudul The Secular City. Menurut Cox, sekularisasi adalah akibat logis dari dampak kepercayaan Bibel terhadap sejarah.
  • Pemisahan agama dari negara di dunia Islam terjadi setelah kolonialisasi negeri-negeri Muslim oleh bangsa-bangsa eropa, contohnya India. Pada 1870, hukum Islam dihapus dan digantikan hukum positif, hanya menyisakan hukum perkawinan dan warisan.

Negara Sekuler:
Amerika Serikat, Italia, Prancis, Estonia, Georgia, Spanyol, Rusia, Portugal, Ukraina, Turki, Portugal, Albania, Meksiko, Australia, Selandia Baru, Brasil, Kolombia, Peru, Uruguay, Venezuela.

Bekas Sekuler:
Bangladesh, Iran, Madagaskar, Irak.

Ambigu:
Jerman, Indonesia, Israel, Argentina, Libanon, Malaysia, Myanmar, Srilanka, Inggris, dan Thailand.

Pro-Islam dan negara berkohesi:
Abu al-A’la al-Maududi, Sayyid Quthub, Hassan al-Banna, Abd al-Wahab, dan Yusuf al-Qaradhawi,

Pro-Islam dan negara berpisah:
Mutafa Kemal, Sir Sayyid Ahmad Khan, Nawwab Abd al-Lathif, Mustafa Khan, Khuda Bakhsh, Qasim Amin, Ali Abdurraziq, dan Hassan Hanafi.

Fatwa MUI 2005:
“Sekularisme bertentangan dengan ajaran Islam karena itu haram dianut oleh Muslim. Yang dimaksud sekularisme adalah memisahkan urusan dunia dari agama hanya digunakan untuk mengatur hubungan pribadi dengan Tuhan. Sedangkan hubungan sesama manusia diatur hanya dengan berdasarkan kesepakatan sosial.”

http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-nusantara/14/04/22/n4ez1g-agama-dan-negara-pernah-mesra-5habis

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s